www.indo-industry.com
13
'26
Written on Modified on
Optimasi Produksi Panas Bumi Melalui Pengeboran
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk mengintensifkan pengeboran eksplorasi dan sumur penopang guna mengatasi penurunan alami reservoir serta memperluas kapasitas pembangkitan listrik nasional.
pertamina.com

Pembangkit listrik tenaga panas bumi memerlukan pasokan entalpi fluida dan tekanan uap yang stabil untuk mempertahankan kapasitas turbin generator. Dalam siklus produksi jangka panjang, penurunan tekanan formasi serta fenomena natural decline menuntut intervensi teknis berkelanjutan melalui pengeboran sumur penopang produksi (make-up well) maupun eksplorasi struktur baru guna menjamin ketersediaan uap secara berkelanjutan.
Strategi Manajemen Reservoir dan Pengeboran
Dalam pengelolaan aset geotermal, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menerapkan integrasi reservoir and drilling management untuk menjaga kesinambungan operasional fasilitas pembangkitan yang sudah aktif sekaligus memperluas kapasitas terpasang. Langkah teknis ini memadukan pembukaan potensi lapangan baru melalui sumur eksplorasi serta stabilisasi pasokan fluida hidrotermal melalui pemboran make-up well.
Aktivitas pengeboran di lapangan produksi difokuskan untuk menjaga kesetimbangan massa fluida reservoir, sehingga penurunan laju alir uap akibat eksploitasi jangka panjang dapat dikompensasi secara langsung tanpa mengganggu keandalan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Realisasi Pengeboran di Wilayah Operasional
Sepanjang tahun 2026, PGE telah mengeksekusi lima kegiatan pengeboran sumur yang tersebar di tiga area operasional utama:
Pengeboran eksplorasi dilaksanakan melalui sumur GTG-B.1 di proyek Gunung Tiga, yang telah menyelesaikan tahap pengeborannya pada 09 Juni 2026 untuk mengidentifikasi keberadaan cadangan fluida termal baru.
Di wilayah Lumut Balai, PGE mengarahkan pemboran untuk mendukung pengoperasian unit eksisting sekaligus persiapan ekspansi Lumut Balai Unit 3 yang direncanakan memiliki kapasitas terpasang 55 megawatt (MW). Sumur make-up well LMB 19-3 telah rampung dikerjakan pada 03 September 2026. Selanjutnya, pemboran sumur LMB-19.4 dimulai (spud in) pada 17 September 2026 dengan target kedalaman lubang mencapai 2.500 meter.
Di Wilayah Kerja Panas Bumi Ulubelu, Tanggamus, Lampung, pemboran sumur penopang produksi UBL-T.1 resmi dimulai pada 17 September 2026 untuk mengamankan kontinuitas suplai uap ke fasilitas pembangkit.
Pada Area Lahendong, Sulawesi Utara, pengeboran sumur TPS-P1.2 di Tompaso dimulai pada 22 September 2026. Sumur ini ditargetkan menembus kedalaman sekitar 2.300 meter dengan potensi energi termal terestimasi sekitar 8 MW.
Optimalisasi Teknis Pasokan Uap
Pendekatan rekayasa ini memastikan bahwa tekanan kepala sumur (wellhead pressure) dan rasio uap terhadap air (steam-to-water ratio) tetap berada dalam parameter desain separator serta turbin. Melalui integrasi pemantauan depletion rate reservoir dan penjadwalan pemboran yang presisi, keandalan pasokan uap pembangkit listrik baseload dapat dipertahankan di seluruh siklus hidup aset.
Konteks Tambahan
Bagian ini merinci spesifikasi teknis dan tolok ukur komparatif yang tidak disertakan dalam pengumuman produk awal.
Secara teknis teknik reservoir panas bumi, formasi hidrotermal entalpi sedang hingga tinggi umumnya mengalami penurunan produksi alami berkisar antara 3 hingga 10 persen per tahun, tergantung pada permeabilitas batuan, laju ekstraksi, dan efektivitas sistem reinjeksi kondensat. Untuk menahan degradasi performa turbin akibat penurunan tekanan saturasi uap tersebut, operator panas bumi di dunia standar industri mengandalkan pengeboran make-up well secara berkala setiap 3 hingga 5 tahun siklus operasional.
Sebagai perbandingan teknis, pembangkit listrik energi terbarukan intermiten seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) memiliki faktor kapasitas (capacity factor) tipikal pada kisaran 20 hingga 35 persen. Sebaliknya, pembangkit listrik tenaga panas bumi beroperasi sebagai beban dasar (baseload) dengan faktor kapasitas melebihi 90 persen, setara dengan pembangkit termal konvensional berbahan bakar fosil. Keunggulan baseload ini membutuhkan kepatuhan ketat terhadap standar integritas sumur API (American Petroleum Institute) serta pengelolaan korosi fluida non-condensable gas (NCG) yang umum ditemukan pada fluida vulkanik di kawasan cincin api Pasifik.
Disunting oleh Romila DSilva, Editor Induportals, dengan bantuan kecerdasan buatan.
www.pertamina.com

