www.indo-industry.com

Pertamina Perluas Bahan Baku SAF Melalui Minyak Jelantah

Kemitraan dengan program gizi nasional mendukung produksi bahan bakar penerbangan rendah karbon dari limbah domestik.

  pertamina.com
Pertamina Perluas Bahan Baku SAF Melalui Minyak Jelantah

PT Pertamina (Persero) dan Badan Gizi Nasional (BGN) menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan ekosistem energi berbasis ekonomi sirkular menggunakan minyak jelantah yang dikumpulkan dari fasilitas layanan gizi nasional. Kolaborasi ini berfokus pada konversi limbah minyak domestik menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), dan biogasoline guna mendukung transisi energi rendah karbon di Indonesia.

Kesepakatan tersebut menghubungkan infrastruktur bantuan gizi berskala nasional dengan strategi energi terbarukan dan dekarbonisasi Indonesia. Dalam inisiatif ini, minyak jelantah yang dihasilkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan dikumpulkan dan diproses sebagai bahan baku produksi bahan bakar terbarukan, sekaligus mendukung ketahanan energi dan pengelolaan limbah.

Jaringan Pengumpulan UCO Mendukung Pengembangan SAF
Nota kesepahaman ditandatangani di Grha Pertamina, Jakarta, pada 7 Mei 2026 oleh Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. Acara tersebut juga dihadiri Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan dan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra.

Menurut BGN, program gizi nasional saat ini melayani sekitar 61,99 juta penerima manfaat, menjadikannya salah satu program distribusi gizi terbesar di dunia. Skala operasional tersebut menciptakan potensi besar sebagai sumber minyak jelantah yang dapat dimanfaatkan untuk sektor bahan bakar terbarukan Indonesia.

Pertamina menyatakan bahwa sistem pengumpulan akan dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui mesin pengumpulan UCollect. Minyak jelantah yang dikumpulkan dari fasilitas SPPG akan diarahkan ke jalur pemrosesan bahan bakar terbarukan, termasuk produksi SAF dan HVO.

Proyek ini merupakan bagian dari strategi bahan bakar rendah karbon Indonesia yang lebih luas dan sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) nasional melalui pemanfaatan limbah domestik dan hilirisasi industri.

Mengapa Minyak Jelantah Relevan untuk Sustainable Aviation Fuel
Minyak jelantah semakin penting dalam pasar SAF global karena menawarkan emisi gas rumah kaca siklus hidup yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar jet berbasis fosil konvensional. Dalam jalur hydroprocessing, UCO dapat dikonversi menjadi hidrokarbon terbarukan yang sesuai untuk pencampuran bahan bakar penerbangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada minyak nabati murni.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono mengatakan UCO merupakan salah satu bahan baku yang efisien untuk produksi SAF dan HVO karena memiliki profil emisi siklus hidup yang relatif rendah. Ia menambahkan bahwa strategi bisnis rendah karbon perusahaan bergantung pada pengamanan pasokan bahan baku domestik jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan dekarbonisasi di masa mendatang.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, melalui Kepmen ESDM No. 113/2026, telah menetapkan target pencampuran SAF sebesar 1% hingga 5% pada 2030. Kolaborasi Pertamina dan BGN ditujukan untuk mendukung target tersebut melalui pembentukan rantai pasok domestik yang terstruktur bagi bahan baku bahan bakar terbarukan.

Model Ekonomi Sirkular Menghubungkan Sistem Pangan dan Energi
Pertamina menggambarkan inisiatif ini sebagai pendekatan terintegrasi yang menghubungkan ketahanan pangan dan ketahanan energi dalam satu ekosistem industri. Program tersebut juga menangani persoalan lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah yang tidak tepat, yang dapat menyebabkan pencemaran air dan masalah pengelolaan limbah.

Melalui proses pengumpulan dan konversi, material limbah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah pembuangan diubah menjadi sumber daya energi industri. Inisiatif ini mendukung agenda ekonomi sirkular dan pengembangan energi terbarukan Indonesia sekaligus menciptakan aliran bahan baku domestik tambahan untuk sektor bahan bakar penerbangan.

Dalam pasar bahan bakar terbarukan, jalur SAF berbasis UCO semakin banyak digunakan secara internasional karena dapat diintegrasikan ke dalam infrastruktur kilang yang sudah ada melalui teknologi hydrotreated esters and fatty acids (HEFA). Program SAF serupa di Eropa dan Asia juga mengandalkan limbah minyak dan lemak sebagai bahan baku yang dapat diskalakan secara komersial karena memiliki sistem pengumpulan yang mapan dan intensitas karbon yang lebih rendah dibandingkan alternatif berbasis tanaman pangan.

Kolaborasi ini juga mendukung strategi hilirisasi industri Indonesia dengan meningkatkan pengolahan domestik bahan baku berbasis limbah menjadi produk energi bernilai tambah tinggi untuk aplikasi transportasi dan penerbangan.

Disunting oleh Natania Lyngdoh, Editor Induportals, dengan bantuan AI.

www.pertamina.com

  Ask For More Information…

LinkedIn
Pinterest

Join the 155,000+ IMP followers